Sabtu, 10 November 2012

contoh meresensi buku cerpen


BATU GOLOQ
                Buku ini berjudul Batu Goloq yang ditulis oleh Idjasudin Prako bagi yang sangat suka membaca cerita rakyat  tentang hal-hal yang berlatar di Nusa Tenggara Barat pasti tahu apa yang di ceritakan di cerita rakyat  ini. Idjasudin Prako seorang penulis otodidak dari Janapria kabupaten Lombok Tengah. Begitu besar cintanya terhadap tanah kelahirannya, sehingga timbul keinginan untuk mengabadikan sebuah cerita rakyat yang menurutnya dapat dijadikan sebagai pelajaran bagi anak-anak penerus bangsa nantinya.
                Di sebuah tepi hutan jati terdapat satu keluarga dengan dua anak yang hidup hanya dengan mengumpulkan kayu kering. Suatu ketika, saat kedua anak mereka menghabiskan sisa persediaan nasi untuk bersama, kedua orang tua mereka naik pitam karena dengan keadaan lapar dan baru seleai berkerja. Tanpa ampun mereka  memukuli kedua anaknya sampai mereka pingsan berlumuran  darah.
                Di saat siuman mereka mencoba naik di sebuah batu yang tinggi dan licin.Mereka berdua mulai meratap, dengan tiba-tiba batu itu melayang. Kedua orang tuanya mendengar ratapan anak mereka kemudian mereka pun keluar sambil menangis memanggil kedua anak mereka, tapi kedua anak itu tak kelihatan lagi. Tiba-tiba batu itu kembali tanpa kedua anak itu.
                Makna dari, batu itu kembali tanpa anak itu. Pemimpin  yang sering kali menyiksa rakyatnya tidak akan mendapat apa-apa.Bahkan sesuatu yang sangat dicintai akan hilang begitu saja tanpa ia sadari
                Amanat yang yang terkandung dalam cerita ini sangatlah luar biasa, karena kita disuruh supaya tidak terlalu cepat mengikuti  hawa nafsu. Kemudian tema yang diangkat sangat menarik yang mengkisahkan penyiksaan orang tua terhadap anak yang berakhir dengan kedua orang tua itu kehilangan anaknya untuk selama-lamanya.Alur cerita ini kurang menggoda, kurang membanngkitkan rasa penasaran untuk beranya-tanya.Gaya bahasa yang digunakan penulis yang mengalir dan  ringan, tetapi tidak berarti gampangan.
                Dengan membaca cerita rakyat ini,kita akan dibuat sadar bahwa setiap manusia pasti punya kelemahan dan kelebihan, bahkan orang tua yang sangat menyayangi anaknya dapat berlaku sangat kasar terhadap anaknya sendiri. Kemudian, jangan sampai cerita rakyat ini terjadi di dalam hidup kita.
                                                                                (Ahmad Fatoni Dwi Putra, murid SMA Negeri 1 Praya)

0 komentar:

Poskan Komentar

my blog © 2008 Template by:
SkinCorner